GISAID mencatat, perkembangan kasus Covid-19 varian Omicron (B.1.1.529) di Indonesia telah mencapai 1.665 kasus per Selasa, 25 Januari 2022. Varian Omicron di Indonesia ini memiliki selisih 259 kasus dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, kasus di Indonesia ini tumbuh 137,86 persen.
Dengan jumlah varian Omicron tersebut, menempatkan posisi Indonesia berada di urutan pertama di Asia Tenggara. Negara dengan kasus Omicron tertinggi di Asia Tenggara masih ditempati Singapura sebanyak 1.169 kasus.
Berikutnya adalah Thailand yang mencatatkan jumlah kasus Omicron 75,92 persen lebih tinggi dibandingkan pekan lalu. Sedangkan untuk data harian, jumlah kasus Omicron di negara ini naik 18,05 persen dibandingkan kemarin.
Kemudian, Malaysia dengan jumlah kasus Omicron 463 kasus (angka ini tidak ada perubahan dari sebelumnya), jumlah kasus Omicron di Kamboja naik 38,26 persen menjadi 159 kasus dibandingkan pekan sebelumnya dan jumlah kasus Omicron di Vietnam naik 637,5 persen menjadi 59 kasus dibandingkan pekan sebelumnya
Adapun laporan GISAID menyebutkan, telah mendeteksi kasus Covid-19 Omicron di seluruh dunia dengan jumlah total mencapai 580,73 ribu kasus. Jumlah varian Covid-19 tersebut naik dibandingkan pekan sebelumnya yang berjumlah 391,34 ribu kasus.
Varian omicron memiliki kemampuan menular lebih tinggi dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya. Data yang tersebar menyebutkan bahwa varian omicron merupakan kasus tanpa gejala.
Berbagai pihak memprediksi puncak kenaikan kasus COVID-19 varian omicron ini akan terjadi pada pertengahan Februari 2022 hingga Maret 2022. Data menunjukan bahwa lebih dari 20% kasus Omicron di Indonesia saat ini adalah merupakan kasus peenularan lokal.
Dengan adanya varian Omicron ini masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kesehatanya, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan serta melakukan vaksinasi COVID-19 dengan dosis lengkap.
Gejala varian Omicron ini terkesan ringan, seperti batuk kering, nyeri tenggorokan, mudah lelah, hidung tersumbat, demam dan nyeri kepala, namun gejala-gejala tersebut bisa berubah menjadi gejala berat pada kelompok lanjut usia, masyarakat dengan komorbiditas dan anak-anak sehingga memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
Kompas.com mencatat, 7 daerah di Indonesia yang sudah mendeteksi varian omicron diantaranya Malang, Jawa Timur, sebanyak 3 warga desa Banjararum terkonfirmasi COVID-19, Bogor, Jawa Barat, seorang warga kecamatan Dramaga terkonfirmasi pofitif COVID-19, Tanggerang Selatan, Banten, sebanyak 4 kasus COVID-19 terlacak di kota Tanggerang, Bandung, Jawa Barat, sebanyak 4 orang warga Kabupaten Bandung dinyatakan positif terpapar virus COVID-19, Surbaya, Jawa Timur, ditemukan kasus pertama varian Omicron pada 2 Januari 2022, DKI Jakarta, kasus COVID-19 varian omicron sudah terpapar 498 orang dan yang terakhir Medang, Sumatera Utara, mendeteksi kasus COVID-19 varian Omicron dengan transmisi lokal.
Jadi, kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia menempatkan posisi pertama di Asia Tenggara. Adapun laporan GISAID menyebutkan, telah mendeteksi kasus Covid-19 Omicron di seluruh dunia dengan jumlah total mencapai 580,73 ribu kasus. Jumlah varian Covid-19 tersebut naik dibandingkan pekan sebelumnya yang berjumlah 391,34 ribu kasus.
Varian omicron memiliki kemampuan menular lebih tinggi dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya. Data yang tersebar menyebutkan bahwa varian omicron merupakan kasus tanpa gejala.
Berbagai pihak memprediksi puncak kenaikan kasus COVID-19 varian omicron ini akan terjadi pada pertengahan Februari 2022 hingga Maret 2022. Data menunjukan bahwa lebih dari 20% kasus Omicron di Indonesia saat ini adalah merupakan kasus peenularan lokal.
Dengan adanya varian Omicron ini masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kesehatanya, menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan serta melakukan vaksinasi COVID-19 dengan dosis lengkap.
Komentar